Selesai sudah masa ‘pelayananku’ di Yayasan Trukajaya Salatiga. Sudah hampir 5 tahun aku mengabdi di yayasan sosial itu. Meninggalkan berbagai kenangan yang masih akan terus kuingat. Teman-teman, pelayanan sosial, orang-orang desa yang kukenal, dan masih banyak lagi kenangan yang harus aku simpan untuk mengingatkan siapa saja yang telah membesarkan aku.
Tanggal 1 April 2009, aku sudah mulai bekerja di kota lain, tepatnya pulau lain. Pulau Bali. Awalnya aku ragu, apakah aku bisa mencari pekerjaan yang sesuai dengan bidang dan ‘jiwa’ku seperti yang sudah aku jalani di Trukajaya. Tapi ternyata ada saja unvisible hands yang mengatur semuanya itu, merencanakan langkah-demi langkah yang harus aku lakukan, hingga akhirnya aku bisa berlabuh di tempat yang sesuai dengan ruh pelayanan Trukajaya dan sesuai dengan apa yang selama ini aku jalani, pelayanan.
Sebelumnya aku tidak mencari-cari pekerjaan di Bali, melihat lowongan pekerjaan di koran, searching di internet, menghubungi kolega, dsb. Tapi teman dekatku memberitahukan bahwa ada pekerjaan di lembaga keagamaan. Karena rencana jangka panjangku untuk menetap di Bali, maka aku segera saja membuat surat lamaran dan kukirimkan kepada lembaga tersebut. Belum genap 1 minggu aku mengirim lamaran, teman dekatku memberitahu lagi kalau ada sebuah lembaga sosial juga membutuhkan staf untuk beberapa bagian,lagi aku mengirim surat lamaran ke tempat itu.
Kedua surat lamaran itu tak pernah aku harap-harapkan, karena aku masih sibuk dengan tugas-tugasku di Trukajaya. Hingga akhirnya di Bulan Februari aku mendapatkan kepastian untuk mengikuti tes di lembaga keagamaan itu. Sebelum berangkat ke Bali, ada informasi susulan kalau lembaga sosial diatas juga akan mengadakan tesnya sehari setelah tes di lembaga keagamaan tersebut. Jadi sekali merengkuh dayung, 2-3 pulau terlampaui, dengan kata lain irit ongkos transport!
Di suatu Senin di Bulan Februari yang hujan, aku mendatangi lokasi tes di lembaga keagamaan tersebut. Bertemu dengan pelamar-pelamar lainnya, saling mengobrol untuk mengurangi ketegangan. Masuk ke ruang tes, kami diberi pengarahan bahwa akan ada 2 tes, tertulis dan wawancara. Tes tertulis berhasil aku lalui dengan baik -menurutku. Tapi untuk tes wawancara memang agak meragukan, karena sang pewawancara hanya menceritakan tentang pekerjaannya dan sangat sedikit menanyai tentang pengalamanku.
Tes tertulis dan tes wawancara juga dilakukan di lembaga sosial -di hari berikutnya. Saya diwawancarai menggunakan Bahasa Inggris (saya bisa menjawab, tetapi saya akui saya tidak yakin dengan Bahasa Inggris saya), lalu tes tertulis diberikan setelah wawancara itu. Tes tertulis untuk posisi staf lingkungan bisa kukerjakan dengan baik, dan waktu itu saya yakin saya pasti diterima karena saingan saya hanya sedikit (hahahaha…). Pengumuman hasil tes (sekalian penerimaan) akan diberitahukan besok untuk lembaga sosial ini, dan di lembaga keagamaan pengumumannya akan dikirim lewat surat.
Agak gelisah juga seharian itu, karena menunggu pengumuman yang tidak kunjung datang. Maksudnya kepastian apakah aku diterima kerja atau tidak. Kalau tidak diterima, aku tidak khawatir karena masih bekerja di Salatiga. Dan kalau diterima, itu adalah suatu kebaikan buatku. Tak bisa dipungkiri, sebaik-baiknya aku menyembunyikan rasa gelisahku, aku tetap gelisah menunggu hasil pengumuman itu. Karena jujur saja, di lembaga sosial itulah hatiku sudah tertuju. Hingga akhirnya, penantianku berbuah sangat manis dan dramatis. Di detik-detik aku bersiap-siap untuk pulang ke Salatiga, di detik itu pulalah sebuah kring telepon dari seberang sana memberitahukan kalau aku diterima di lembaga sosial itu. Lalu senyum merekah yang sejak pagi tidak kunjung datang, terlampiaskan sudah karena pengumuman itu. Akhirnya aku bisa pulang ke Salatiga dengan perasaan lega.
Setelah diterima bekerja di Maha Bhoga Marga (MBM- lembaga sosial itu), aku tidak pernah lagi memikirkan hasil tes di lembaga yang satunya. Bagiku MBM adalah “foto copy” dari Yayasan Trukajaya. Ruh dan jiwa yang sejalan itulah yang membuatku ingin menambatkan langkahku di tempat itu. Dan MBM adalah “Trukajaya ku”.
Aku mengajukan surat pengunduran diriku ke Trukajaya di akhir Februari, namun sebelumnya aku sudah memberitahukan tentang diterima kerja itu kepada Direktur Trukajaya. Sebenarnya di Bulan Maret, MBM sudah mengharapkanku untuk bekerja, berhubung aku masih bekerja di Trukajaya, aku memohon kebijaksanaan pihak MBM untuk bisa menunda pekerjaanku sampai Bulan April, seperti surat pengunduranku ke Trukajaya yang per 1 April.
Hari Rabu, tanggal 1 April 2009, resmi sudah aku bekerja di Yayasan MBM, Bali.
